Kumpulan Cerita

CERITA SERI KE-1 

Cerita Dongeng: Legenda Bunga Mawar

             Pada zaman dahulu di sebuah kerajaan, hiduplah seorang gadis cantik bersama dua kakaknya. Gadis itu bernama mawar, sedangkan kedua kakaknya bernama Alamanda dan Kecubung. Ibu ketiga gadis itu telah lama meninggal, sedangkan ayah mereka bekerja menjadi seorang saudagar yang pekerjaannya berdagang dari satu kota ke kota lainnya.
                Di antara ketiga bersaudara itu, Mawarlah yang paling cantik dan baik budi pekertinya. Dia adalah gadis yang rajin bekerja dan senang sekali menolong. Tidak heran jika semua orang menyukainya. Sedangkan kedua kakaknya juga sangat cantik dan. Hanya seja tidak ada yang menandingi kebaikan dan kecantikan Mawar. Namun, mereka bertiga senantiasa hidup rukun.
            Pada suatu hari, tatkala hendak pergi berdagang, ayah mereka berkata kepada putri-putri cantiknya. “ Apa yang kalian inginkan, putrid-putriku tersayang?”
                “Saya ingin perhiasan yang cantik, ayah,” kata Alamanda.
                “Saya ingin baju yang bagus, Ayah. Jangan lupa bawakan sepatunya juga,” pinta Kecubung dengan manja.
                Namun, Mawar hanya terdiam seribu bahasa. Dipandangilah wajah ayahnya dengan sedih. Dia merasa kasihan karena ayahnya yang usianya sudah setua itu masih harus berdagang berkeliling keluar kota.
                “Apa yang kau inginkan, anakku Mawar?” Tanya sang ayah sambil menatap Mawar yang sedang bersedih.
                “Saya tidak ingin apa-apa, Ayah. Saya hanya ingin Ayah pulang dengan selamat,”kata Mawar dengan sedih.
                Ayahnya tersenyum, dipelukannya Mawar dengan penuh kasih. ’’Jangan khawatir, anakku. Ayah pasti pulang dengan selamat. Kalian hiduplah dengan rukun. Jangan saling bertengkar,” pesan sang ayah.
                Mereka bertiga mengangguk. Sang ayah kemudian bersiap untuk berangkat. Ketiga putrid itu melambai-lambaikan tangan sampai kereta ayah mereka tidak terlihat lagi. Sepeninggal sang ayah, ketiga gadis itu selalu hidup rukun. Mereka selalu bermain dan bekerja bersama-sama.
                Hingga pada suatu hari, ketika mereka tangah bermain, Mawar jatuh terpeleset. Dan tidak disangka-sangka, putrid yang cantik itu meninggal. Kedua kakaknya menjadi takut dan bingung. Kedua bersaudara itu tak henti-hentinya menangisi adiknya yang telah pergi.
                Hingga suatu hari ketika menengok makam adiknya, Kecubung dan Alamanda terkejut luar biasa. Dari dalam tanah tampat adiknya dimakamkan, muncullah tanaman yang mereka tidak tahu namanya. Tanaman itu berduri, namun berbau sangat harum. Bahkan tak lama kemudian tanaman itu mengeluarkan bunga yang sangat cantik dan baunya harum. Kedua bersaudara itu menamakan mawar untuk tanaman yang baru tumbuh tersebut, sama seperti nama adik mereka.

CERITA SERI KE-2

Cerita Rakyat: Mentiko Betuah


cerita rakyat aceh mentiko bertuahCerita Rakyat Aceh Mentiko Betuah: Nanggroe Aceh Darussalam merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang juga wilayahnya terdiri dari beberapa pulau kecil, salah satu di antaranya adalah Pulau Simeulue. Namun, pulau ini tidak sepopuler dengan pulau-pulau lainnya yang ada di daerah ini, seperti Pulau Weh, yang terkenal dengan Kota Sabang dan titik 0 (nol) kilometernya, yaitu sebagai wilayah Indonesia yang terletak paling barat.
Simeulue termasuk salah satu kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat sejah tahun 2000, yang terletak di tengah Lautan Hindia dan beribukota Sinabang. Kabupaten Simeulue terkenal dengan Kerbau Simeulue dan hasil cengkehnya, sehingga Pulau Simeulue pernah mendapat gelar “Pulau Cengkeh” sebelum akhirnya batang-batang cengkeh itu tidak memiliki harga lagi di pasaran.
Keistimewaan lain yang dimiliki oleh Kabupaten Simeulue adalah keanekaragaman budayanya, seperti bahasa, upacara-upacara tradisional, permainan rakyat dan cerita-cerita rakyatnya. Salah satu cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Simeulue yaitu Mentiko Betuah. Cerita ini mengisahkan tentang pengembaraan Rohib, seorang anak raja dari Kerajaan Aceh, yang diusir oleh ayahnya karena tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya. Rohib mengembara dari satu kampung ke kampung lainnya sebagai pedagang dengan menyusuri hutan belantara. Uang yang dipakai untuk berdagang tersebut adalah pemberian ayahnya, namun dengan satu syarat, uang itu tidak boleh habis kecuali untuk modal berdagang.
Selama dalam perjalanan atau pengembaraannya, Rohib selalu menemukan orang-orang kampung yang menganiaya binatang. Oleh karena tidak tega melihat binatang yang tak berdosa itu dianiaya, ia pun memberi mereka imbalan uang jika mereka mau menghentikan perbuatan itu. Akhirnya tanpa disadarinya, uang untuk modal berdagang telah habis ia bagi-bagikan kepada mereka. Menyadari hal itu, ia pun merasa khawatir jika nanti pulang ke istana. Tentu ayahnya akan bertambah marah kepadanya, sebab sebelum berangkat berdagang, ia berjanji akan berbuat baik dan membawa pulang keuntungan yang banyak untuk orang tuanya. Di tengah kebingungan tersebut, apa yang akan dilakukan Rohib agar ia tidak dimarahi oleh ayahnya? Adakah orang yang akan menolongnya? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Mentiko Betuah berikut ini!
* * *
Konon, pada zaman dahulu di negeri Semeulue, tersebutlah seorang raja yang kaya-raya. Raja itu sangat disenangi oleh rakyatnya, karena kedermawanannya. Namun, ia tidak memiliki anak setelah sepuluh tahun menikah dengan permaisurinya. Oleh karena sudah tidak tahan lagi ingin punya keturunan, Raja itu pun pergi bersama permaisurinya ke hulu sungai yang airnya sangat dingin untuk berlimau dan bernazar, agar dikaruniai seorang anak yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan.
Tempat yang akan dituju itu berada sangat jauh dari keramaian. Untuk menuju ke sana, mereka harus menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai-sungai, serta mendaki dan menuruni gunung. Mereka pun berangkat dengan membawa bekal secukupnya. Setiba kedua suami-istri di sana, mereka mulai melaksanakan maksud dari kedatangan mereka. Setelah sehari-semalam berlimau dan bernazar, mereka pun kembali ke istana.
Setelah menunggu berhari-hari dan berminggu-minggu, akhirnya doa mereka terkabul. Permaisuri diketahui telah mengandung satu bulan. Delapan bulan kemudian, Permaisuri pun melahirkan seorang anak laki-laki, dan diberinya nama Rohib. Raja sangat gembira menyambut kelahiran putranya itu, yang selama ini diidam-idamkannya. Raja kemudian memukul beduk untuk memberitahukan kepada seluruh rakyatnya agar berkumpul di pendopo istana. Selanjutnya, Raja menyampaikan bahwa ia hendak mengadakan selamatan sebagai tanda syukur atas rahmat Tuhan yang telah menganugerahinya anak. Keesokan harinya, selamatan pun dilangsungkan sangat meriah dengan berbagai macam pertunjukan.
Raja dan permaisuri mendidik dan membesarkan putra mereka dengan penuh kasih sayang. Mereka sangat memanjakannya, sehingga anak itu tumbuh menjadi anak yang sangat manja. Waktu terus berlalu, Rohib pun bertambah besar. Rohib kemudian dikirim oleh orang tuanya ke kota untuk belajar di sebuah perguruan. Sebelum berangkat, Rohib mendapat pesan dari ayahnya agar belajar dengan tekun. Setelah itu, ia pun berpamitan kepada orang tuanya. Sudah beberapa tahun Rohib belajar, Rohib belum juga mampu menyelesaikana pelajarannya karena sudah terbiasa manja. Ayahnya menjadi sangat marah kepadanya, bahkan ingin menghukumnya, ketika ia kembali ke istana.
“Hai, Rohib! Anak macam apa kamu! Dasar anak keras kepala! Sudah tidak mau mendengar nasihat orang tua. Pengawal! Gantung anak ini sampai mati!” perintah sang Raja. Mendengar perintah suaminya kepada pengawal, Permaisuri pun segera bersujud di hadapan suaminya.
“Ampun, Kakanda! Rohib adalah anak kita satu-satunya. Adinda mohon, Rohib jangan dihukum mati. Berilah ia hukuman lainnya!” pinta sang Permaisuri kepada suaminya.
“Tapi, Kanda sudah muak melihat muka anak ini!” jawab sang Raja dengan geramnya.
“Bagaimana kalau kita usir saja dia dari istana ini? Tapi dengan syarat, Kakanda bersedia memberinya uang sebagai modal untuk berdagang,” usul sang Permaisuri.
“Baiklah, Dinda! Usulan Dinda aku terima. Tapi dengan syarat, uang yang aku berikan kepada Rohib tidak boleh ia habiskan kecuali untuk berdagang,” jawab sang Raja.
“Bagaimana pendapatmu, Anakku?” Permaisuri balik bertanya kepada Rohib.
“Baiklah, Bunda! Rohib bersediah memenuhi syarat itu. Terima kasih, Bunda!” jawab Rohib.
“Jika kamu melanggar lagi, maka tidak ada ampun bagimu, Rohib!” tambah Raja menegaskan kepada putranya itu.
Setelah itu, Rohib berpamitan kepada orang tuanya untuk pergi berdagang. Ia pergi dari satu kampung ke kampung dengan menyusuri hutan belantara. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan anak-anak kampung yang sedang menembak burung dengan ketapel.
“Wahai, Saudara-saudaraku! Janganlah kalian menganiaya burung itu, karena burung itu tidak berdosa.” tegur si Rohib kepada anak-anak itu.
“Hei, kamu siapa? Berani-beraninya kamu melarang kami,” bantah salah seorang dari anak-anak kampung itu.
“Jika kalian berhenti menembaki burung itu, aku akan memberi kalian uang,” tawar Rohib.
Anak-anak kampung itu menerima tawaran Rohib.
Setelah memberikan uang kepada mereka, Rohib pun melanjutkan perjalanannya. Belum jauh berjalan, ia menemukan lagi orang-orang kampung yang sedang memukuli seekor ular. Rohib tidak tega melihat perbuatan mereka tersebut. Ia kemudian memberikan uang kepada orang-orang tersebut agar berhenti menganiaya ular itu. Setelah itu, ia melanjutkan lagi perjalanannya menyusuri hutan lebat menuju ke sebuah perkampungan. Demikian seterusnya, selama dalam perjalanannya, ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang, sehingga tanpa disadarinya uang yang seharusnya dijadikan modal berdagang sudah habis.
Setelah sadar, ia pun mulai gelisah dan berpikir bagaimana jika ia pulang ke istana. Tentu ayahnya akan sangat marah dan akan menghukumnya. Apalagi ia telah dua kali melakukan kesalahan besar, pasti ayahnya tidak akan mengampuninya lagi. Oleh karena kelelahan seharian berjalan, ia pun memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang. Ia kemudian duduk di atas sebuah batu besar yang ada di bawah pohon itu sambil menangis tersedu-sedu. Pada saat itu, tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya. Rohib sangat ketakutan, mengira dirinya akan dimangsa ular itu.
“Jangan takut, Anak muda! Saya tidak akan memakanmu,” kata ular itu. Melihat ular itu dapat berbicara, rasa takut Rohib pun mulai hilang.
“Hai, Ular besar! Kamu siapa? Kenapa kamu bisa berbicara?” tanya si Rohib mulai akrab.
“Aku adalah Raja Ular di hutan ini,” jawab ular itu.
“Kamu sendiri siapa? Kenapa kamu bersedih?” ular itu balik bertanya kepada si Rohib.
“Aku adalah si Rohib,” jawab Rohib, lalu menceritakan semua masalahnya dan semua kejadian yang telah dialami selama dalam perjalanannya.
“Kamu adalah anak yang baik, Hib,” kata Ular itu dengan akrabnya.
“Karena kamu telah melindungi hewan-hewan di hutan ini dari orang-orang kampung yang menganiayanya, aku akan memberimu hadiah sebagai tanda terima kasihku,” tambah ular itu lalu kemudian mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
“Benda apa itu?” tanya si Rohib penasaran.
“Benda itu adalah benda yang sangat ajaib. Apapun yang kamu minta, pasti akan dikabulkan. Namanya Mentiko Betuah,” jelas Ular itu, lalu pergi meninggalkan si Rohib.
Sementara itu, Rohib masih asyik mengamati Mentiko Betuah itu. “Waw, hebat sekali benda ini. Berarti benda ini bisa menolongku dari kemurkaan ayah,” gumam Rohib dengan perasaan gembira. Berbekal Mentiko Betuah itu, Rohib memberanikan diri kembali ke istana untuk menghadap kepada ayahnya. Namun, sebelum sampai di istana, terlebih dahulu ia memohon kepada Mentiko Betuah agar memberinya uang yang banyak untuk menggantikan modalnya yang telah dibagi-bagikan kepada orang-orang kampung, dan keuntungan dari hasil dagangannya. Ayahnya pun sangat senang menyambut putranya yang telah membawa uang yang banyak dari hasil dagangannya. Akhirnya, Rohib diterima kembali oleh ayahnya dan terbebas dari ancaman hukuman mati. Semua itu berkat pertolongan Mentiko Betuah, pemberian ular itu.
Setelah itu, Rohib berpikir bagaimana cara untuk menyimpan Mentiko Betuah itu agar tidak hilang. Suatu hari, ia menemukan sebuah cara, yaitu ia hendak menempanya menjadi sebuah cincin. Lalu dibawanya Mentiko Betuah itu kepada seorang tukang emas. Namun tanpa disangkanya, tukang emas itu menipunya dengan membawa lari benda itu. Oleh karena Rohib sudah bersahabat dengan hewan-hewan, ia pun meminta bantuan kepada mereka. Tikus, kucing dan anjing pun bersedia menolongnya. Anjing dengan indera penciumannya, berhasil menemukan jejak si tukang emas, yang telah melarikan diri ke seberang sungai. Kini, giliran si Kucing dan si Tikus untuk mencari cara bagaimana cara mengambil cincin itu yang disimpan di dalam mulut tukang emas. Pada tengah malam, si Tikus memasukkan ekornya ke dalam lubang hidung si Tukang Emas yang sedang tertidur. Tak berapa lama, Tukang Emas itu bersin, sehingga Mentiko Betuah terlempar keluar dari mulutnya. Pada saat itulah, si Tikus segera mengambil benda itu.
Namun, ketika Mentiko Betuah akan dikembalikan kepada Rohib, si Tikus menipu kedua temannya dengan mengatakan bahwa Mentiko Betuah terjatuh ke dalam sungai. Padahal sebenarnya benda itu ada di dalam mulutnya. Pada saat kedua temannya mencari benda itu ke dasar sungai, ia segera menghadap kepada si Rohib. Dengan demikian, si Tikuslah yang dianggap sebagai pahlawan dalam hal ini. Sementara, si Kucing dan si Anjing merasa sangat bersalah, karena tidak berhasil membawa Mentiko Betuah. Ketika diketahui bahwa si Rohib telah menemukan Mentiko Betuahnya, yang dibawa oleh si Tikus, maka tahulah si Kucing dan si Anjing bahwa si Tikus telah melakukan kelicikan.
Menurut masyarakat setempat, bahwa berawal dari cerita inilah mengapa tikus sangat dibenci oleh anjing dan kucing hingga saat ini.
* * *
Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Ada beberapa pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, yaitu di antaranya; sikap suka menolong, akibat buruk terlalu memanjakan anak dan akibat buruk suka berbuat licik. Pertama, sikap suka menolong. Sikap ini tercermin pada sikap Rohib yang selalu melindungi hewan-hewan dari orang-orang kampung yang menganiayanya, meskipun ia harus berkorban dengan memberikan uang modal dagangannya kepada mereka. Namun, berkat ketulus-ikhlasannya tersebut, ia mendapat pertolongan dari seekor ular, sehingga ia terbebas dari hukuman ayahnya. Sikap Rohib ini sangat patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap ini juga sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu, sebagaimana yang dikemukakan dalama tunjuk ajar Melayu berikut ini:
wahai ananda dengarlah amanat,
tulus dan ikhlas jadikan azimat
berkorban menolong sesama umat
semoga hidupmu beroleh rahmat
Kedua, akibat buruk terlalu memanjakan anak. Sikap ini tercermin pada kedua orang tua Rohib yang selalu memanjakannya ketika ia masih kecil. Akibatnya, sifat manja itu terbawa-bawa sampai Rohib menjadi besar. Oleh karena sifat manjanya itu, ia tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di kota sebagaimana yang diharapkan oleh orang tuanya. Sikap terlalu memanjakan anak ini tidak patut untuk dijadikan suri teladan, karena sangat memengaruhi perkembangan mental dan perilaku anak. Sifat manja dapat membuat anak menjadi malas belajar. Anak yang malas belajar, tentu memiliki wawasan yang sempit. Terkait dengan sifat malas belajar dan berwawasan sempit ini, Tenas Effendy dalam bukunya “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau menyebutkan beberapa ungkapan pantangan mengenai kedua sifat tersebut, yaitu:
Pertama, ungkapan tentang sifat malas belajar dikatakan:
menuntut ilmu bermalas-malas,
orang tegak awak terlindas
Kedua, ungkapan tentang sifat berwawasan sempit dikatakan:
kalau hidup tidak senonoh,
pandangan sempit pikiran bodoh
Ketiga, akibat buruk suka berbuat curang dan licik. Sikap ini tercermin pada perilaku si Tikus yang telah menipu si Kucing dan si Anjing, karena hanya ingin mencari muka dan mendapat pujian dari si Rohib, putra raja itu. Akibat kelicikannya itu, ia pun sangat dibenci oleh kucing dan anjing. Sikap licik ini termasuk sifat yang tercela, sehingga tidak patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan sifat curang dan licik ini, Tenas Effendy juga menyatakannya dalam ungkapan seperti berikut:
apa tanda orang yang licik,
janji mungkir cakap terbalik

CERITA SERI KE-3

Arti Persahabatan


teman,sahabat,partner
Di pagi yang cerah ini, pertama kali gue masuk SMP.Pertama kali gue masuk kelas,gue di suruh memperkenalkan diri,namaku Kiki Margareta Azahra panggil saja aku kiki.Selama tiga bulan masuk SMP gue di nilai sama teman-teman gue tomboy karena gue pandai pada pelajaran silat, dan pelajaran yang lain gue di nilai biasa saja.
Di taman sekolah gue duduk sendirian sambil berkata “mana mungkin ada teman yang akan menjadi sahabatku?” dengan wajah cemas. Mendengar perkataan itu temannya si Candy langsung berkata “jangan berkata seperti itu, siapa yang tidak mau bersahabat dengan mu, gue mau kok jadi sahabat lho”.
Dengan wajah gembira Kiki berkata “lho mau jadi sahabat gue?,gue orangnya tomboy loh!” “ya gak papa persahabatan itu tidak di pandang dari tomboy tetapi datang dari diri sendiri” sahut Candy dengan bersemangat.”mulai saat ini kita bersahabat ya!” sahut Kiki lagi.
“Iya” kata Candy “sahabat sejati ya namanya ” sahut Kiki “okey-okey” jawab Candy. Setelah itu mereka bertukar nomor HP,dan alamat.Dalam pelajaran silat Candy dan Kiki masih pandai Kiki, tetapi bila pelajaran lain Candy lah yang menjadi juara nya. Mereka berdua bersaing.
pada waktu ulangan nilai Kiki kalah baguz oleh Candy, walaupun kurang baguz, Kiki tetap berusaha. Agar nilai Kiki baguz dia jarang latihan silat, tetapi sering belajar sampai-sampai tidur hingga malam. Karna tidur hingga malam, kiki pun bangun kesiangan, dan sesampai sekolah di hukum, karna terlambat.
Suatu saat ketika ulangan matematika nilai Candy kalah baguz dengan Kiki. Merekapun bersaing untuk mencapai nilai terbaik. Pada suatu hari, Candy akan ke rumah Kiki, untuk belajar silat. setelah belajar silat, mereka pergi ke suatu tempat yang indah yaitu taman bunga.
“persahabatan itu bagaikan bunga dan tangkainya yang s’lalu bersatu melawan panasnya matahari dan hujan” kata kiki “tapi kiki bila bunga dan tangkainya s’lalu bersatu melawan panasnya matahari dan hujan yang sangat kuat, apakah bisa?” sahut candy “mungkin saja” kata kiki
Setelah pulang dari taman, mereke pergi melukis di rumah kiki. kiki melukis sebuah bunga dan tangkainya yang bersatu melawan panasnya matahari, sedangkan candy melukis sebuah persahabatan antara candy dan kiki. candy iseng-iseng saja melakukan hal ini yaitu:
mengambil cat air dan menumpahkan ke badan kiki, sampai cat air nya pun habis. Setelah itu kiki harus membelinya di seberang jalan raya. Menyebrang dengan hati-hati pun telah dijalani, tetapi ada mobil yang melaju sangat kencang tiba-tiba suara “bruuuuk..” kiki terjatuh. ketika kiki sadar tak taunya sudah di rumah sakit.
Dia pun langsung bertanya “dimana candy, dimana candy?” tak tersangka candy telah hanyut nyawanya karena menolong kiki ketika akan di tabrak, mendengar masalah itu kiki menangis sambil berkata ” apakah ini yang namanya persahabatan?, dia sayang padaku, I LOVE YOU TOO” Kata terakhir yang di katakan kiki kepada candy. Walaupun kehilangan sahabatnya, dia tidak akan melupakan nya.

CERITA SERI KE-4

Cerita Dongeng: Ucapan Ajaib dari Peri


ucapan ajaib dari periCerita Dongeng Ucapan Ajaib dari Peri: Dahulu, ada seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Anak yang sulung angkuh dan pemarah seperti ibunya, sedangkan yang bungsu manis dan lemah lembut.
Sang ibu sangat memanjakan anaksulung nya yang memiliki sifat yang mirip dengannya, dan memperlakukan si bungsu dengan sangat buruk. Si bungsu disuruhnya melakukan hamper semua pekerjaan di rumah. Salah satu dari tugas si bungsu yang malang adalah berjalan kaki 1 kilometer jauhnya ke sebuah mata air dan membawa pulang air dalam sebuah ember besar.
Pada suatu hari saat si bungsu sedang mengambil air di mata air, seorang wanita tua datang dan meminta air untuk minum.
“Tunggu sebentar, akan kuambilkan air yang bersih untuk Ibu,” kata si bungsu kepada wanita tua itu. Diambilnya air yang paling jernih dan bersih, lalu diberikannya kepada wanita tua itu dengan menggunakan teko air agar dapat dengan mudah diminum.
Wanita tua yang sebenarnya adalah seorang peri itu berkata, “Kamu sangat sopan dan suka menolong, jadi akan kuberikan keajaiban untukmu. Setiap kata yang kamu ucapkan akan mengeluarkan sekuntum bunga, batu permata, dan mutiara dari mulutmu.”
Si bungsu tidak mengerti maksud wanita tua itu. Ia hanya tersenyum lalu berpamitan dan berjalan pulang.
Sesampainya di rumah, ibunya memarahinya karena terlalu lama membawakan air. Si bungsu meminta maaf kepada ibunya dan menceritakan kejadian yang dia alami, bahwa ia menolong seorang wanita tua yang kemudian memberinya keajaiban. Selama si bungsu bercerita, bunga-bunga, batu permata dan mutiara terus berjatuhan keluar dari mulutnya.
“Kalau begitu, aku harus menyuruh kakakmu pergi kesana.” Kata sang ibu. Lalu disuruhnya si sulung untuk pergi ke mata air dan apabila bertemu dengan seorang wanita tua, disuruhnya si sulung untuk bersikap baik dan menolongnya.
Si sulung yang malas tidak mau pergi berjalan kaki sejauh itu. Namun dengan tegas, ibunya menyuruhnya pergi, “Pergi kesana sekarang juga!!!” sambil menyelipkan wadah air dari perak ke dalam tas si sulung.
Sambil menggerutu si sulung berjalan menuju mata air. Saat tiba disana, ia berjumpa dengan wanita tua itu. Tapi kali ini wanita tua itu berpakaian indah bagaikan seorang ratu. Lalu, wanita tua itu meminta minum kepada si sulung.
“Apa kamu kira aku datang sejauh ini hanya untuk memberimu minum? Dan jangan pikir kamu bisa minum dari wadah air perakku. Kalau mau minum ambil saja sendiri di mata air itu!” kata si sulung kepada wanita tua itu.
Karena sikapnya yang kasar, wanita tua yang sebenarnya seorang peri itu mengutuknya. “Untuk setiap kata yang kamu ucapkan, seekor katak atau ular akan berjatuhan keluar dari mulutmu!”
Saat tiba di rumah, si sulung menceritakan apa yang dialaminya kepada ibunya. Saat bercerita, beberapa ekor ular dan katak berjatuhan keluar dari mulutnya.
“Astaga!”, teriak ibunya jijik. “Ini semua gara-gara adikmu. Di mana dia?”
Sang ibu lalu pergi mencari si bungsu. Karena ketakutan, si bungsu lalu lari dan bersembunyi di hutan.
Seorang Pangeran yang sedang berburu terkejut melihat seorang gadis yang sedang menangis sendirian di hutan. Ketika Pangeran itu bertanya, dengan tersedu-sedu si bungsu menceritakan apa yang terjadi. Saat bercerita, bunga-bunga, mutiara serta batu permata pun berjatuhan dari mulutnya.
Pangeran jatuh hati kepada gadis yang baik itu. Dan Pangeran juga tahu ayahnya tidak akan keberatan mendapatkan seorang menantu yang baik seperti itu, apalagi dengan mutiara serta batu permata yang terus dihasilkannya. Maka Pangeran pun membawa si bungsu ke istana, lalu mereka menikah dan hidup berbahagia.
Sementara itu di rumah, sikap si sulung menjadi semakin memuakkan, dan ia pun terus menerus mengeluarkan katak serta ular dari mulutnya, sampai-sampai ibunya pun mengusirnya dari rumah.
Karena ia tidak tahu harus kemana dan tidak ada seorangpun yang mau menampungnya karena sifatnya yang buruk, ditambah dengan katak-katak dan ular-ular yang terus keluar dari mulutnya, maka akhirnya ia pun tinggal sendirian di tengah hutan.

CERITA SERI KE-5

Cerita Rakyat: Asal-usul Selat Jawa-Bali


Konon di kerajaan Daha, hiduplah seorang Brahmana bernama Sidi Mantra yang terkenal akan kesaktiannya. Karena ketekunan Sidi Mantra dalam mempelajari ajaran agamanya, Batara Guru menghadiahi dirinya seorang istri yang cantik dan harta benda yang melimpah. Dari pernikahan ini, Sidi Mantra di anugerahi seorang putra bernama Manik Angkeran.
                Manik Angkeran tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Sayangnya, dia memiliki kebiasaan buruk, yaitu suka berjudi. Karena sering kalah dalam berjudi, Manik Angkeran banyak berutang kepada orang lain. Manik Anngkeran meminta bantuan ayahnya.
                Mulailah Sidi Mantra mengasingkan diri dan bertapa. Hingga pada suatu hari, sebuah suara membangunkan pertapaannya.”Sidi Mantra, pergilah ke kawah Gunung Agung. Di sana hidup seekor naga bernama Naga Besukih. Mintalah padanya harta yang banyak!.”
                Demi membantu putra kesayangannya, Sidi Mantra tak segan-segan menghadapi rintangan yang menghadangnya. Setibanya di tepi kawah Gunung Agung, Sidi Mantra duduk bersila dan menyembunyikan genta. Mulutnya berkomat-kamit melantunkan mantra. Naga Besukih yang mendengar alunan genta dan mantra yang diucapkan Sidi Mantra, keluar dari tempat persembunyiannya. Ia menanyakan apa maksud Sidi Mantra memanggilnya.
                “Niat apa yang membawamu kemari, wahai Sidi Mantra?”
                “Maafkan aku karena telah mengganggu tidur panjangmu, Naga Besukih. Tetapi sudikah kiranya engkau membagi sedikit hartamu untukku? Aku membutuhkannya untuk membantu anakku, Manik Angkeran.”
                 Naga Besukih mengabulkan permintaan Sidi Mantra. Ia menggeliatkan tubuh dan dari sisiknya itu berjatuhan emas dan permata. Sidi Mantra memunguti emas dan permata tersebut.
                “Pakailah emas dan permata ini untuk membayar utangmu. Tetapi ingatlah, jangan berjudi lagi!” Sidi Mantra menasehati putranya.
                Namun, tidak berapa lama kemudian, Manik Angkera datang lagi kepada ayahnya dan meminta tolong, karena semua harta pemberian Naga Besukih telah habis. Sidi Mantra yang merasa kecewa menolak membantu Manik Angkeran.
                Seorang teman Manik Angkeran membocorkan rahasia tentang Naga Besukih. Diam-diam, Manik Angkeran mencuri genta milik ayahnya dan pergi ke kawah Gunung Agung.
Di tepi kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan genta tersebut keras-keras. Bukan main terkejutnya Manik Angkeran saat melihat Naga besukih. Manik Angkeran mengutarakan niatnya yang langsung disetujui Naga Besukih.
“Aku akan membantumu. Tapi berjanjilah untuk tidak berjudi lagi. Ingatlah, hukum karma yang akan menjeratmu jika kau mangkir.”
Setelah mendapatkan janji dari Manik Angkeran, Naga kembali menggoyangkan tubuhnya. Dari sisiknya  berjatuhan emas dan permata, yang segera dipunguti Manik Angkeran.
Namun, Manik Angkeran yang licik ternyata berniat jahat terhadap Naga Besukih. Ketika Naga Besukih memutar badannya hendak kembali masuk ke dalam kawah, Manik Angkeran memotang ekor Naga Besukih dan dia cepat-cepat lari. Naga Besukih yang sakti tidak mengejar Manik Angkeran, Seketika itu juga, Manik Angkeran menemui ajalnya.
Sidi Mantra yang terpukul melihat kematian anaknya, memohon kepada Naga Besukih untuk menghidupkan kembali Manik Angkeran. Naga Besukih menyanggupinya, asalkan ekornya dapat kembali sedia kala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan eekor Naga Besukih. Dan Manik Angkeran pun kemudian di hidupkan kembali ole Naga Besukih.
“Ayah, mohan maafkan aku, aku berjanji tidak akan berjudi lagi.” Manik Angkeran bertaubat dan berjanji pada ayahnya.
“Ayah memaafkanmu, Manik Angkeran. Tetapi mulai saat ini kita tidak bias hidup bersama lagi. Kita akan hidup terpisah!”
Dan seketika itu juga Sidi Mantra lenyap dari pandangan. Di bekas tempatnya berdiri, mengalir deras mata air yang lama-kelamaan menjadi lautan. Dengan tongkatnya Sidi Mantra telah membuat garis pemisah dirinya dengan Manik Angkeran. Sekarang tempat itu menjadi selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar